8 Sep 2011

PESAN PAK GURU

Suatu hari seorang guru memulai pelajaran didepan muridnya – sebagai apersepsi – dengan meminta mereka untuk menyebutkan benda yang dipegang dan diangkat keatas oleh tangan pak guru, spontan murid-murid menjawab, “pencil”. Secara serentak. Dan memang yang dipegang dan diangkat oleh tangan pak guru adalah pencil. Lalu pak guru itu mengangkat tangan kirinya yang memegang spidol dan meminta kembali agar murid – muridnya menyebutkannya, secara spontan mereka menjawab,”spidol”.  Pak guru itupun megulang-ngulang gerakkannya dengan mengangkat tangan kiri dan kanan bergantian, dan terus meminta mereka menyebutkannya. Setelah beberapa hitungan pak guru itu menghentikan gerakkannya, dan selesailah rekayasa apersepsi sesi pertama. Kemudian mulailah apersepsi sesi kedua dengan permintaan yang sama seperti sebelumnya, namun mereka diminta untuk menyebutkan,”spidol” apabila yang diangkat oleh tangan kanannya berupa pecil, dan menyebut pencil apabila yang diangkat kirinya berupa spidol. Guru itupun menambah aturan dalam permaianannya itu, bila salah sebut mereka akan kena hukuman. Tak urung murid-murid itupun berusaha keras untuk memenuhinya walau di awal mereka kesulitan dan agak gagu lama-lama mereka terbiasa juga, apalagi setelah diulang-ulang. Ketika yang diangkat spidol murid itupun menyebut pencil dan seterusnya.

Memasuki kegiatan inti pelajaran, pak guru menerangkan; “Begitulah anakku semuanya, gambaran kondisi masyarakat sekarang. Dengan hikmat pak Guru itu melanjutkan
penjelasannya….Dahulu orang malu memakai baju ketat apalagi sampai kelihatan bentuk tubuhnya, mereka mengatakan,”pakaian seperti itu tidak pantas dan bertentangan dengan prinsip agama kita. Berbeda dengan jaman sekarang orang sudah tidak malu lagi, bahkan merasa senang dengan pakaian seperti itu, apalagi setelah di perankan dan diiklankan berulang-ulang kepada mereka lewat media dan dengan disertai “image” bila tidak seperti itu tidak gaul, tidak modern dan ketinggalan jaman. Bagi masyarakat yang latah ( baca: minim iman ) akhirnya pikiran dan perasaannya mulai berubah. Pikirannya memandang baik dan biasa pakaian seperti itu, mulailah perasaannya senang dan menikmati.

Begitu juga yang ada di dunia politik praktik umat islam. Dulu umat islam hanya mengenal bahwa islam satu-satunya system politik yang paling baik dan benar yang diperankan oleh Negara untuk mengatur rakyatnya, tetapi sekarang mereka menerapkan bahkan menyakini system demokrasi. Padahal antara demokrasi dan islam sangat berbeda prinsip. Demokrasi menuhankan rakyat, sedangkan islam menuhankan Allah swt. Sumber hukum demokrasi adalah rakyat, sedangkan Islam adalah syariat Allah. – Sebagai pengayaan, pak guru menambahkan – lantas apa yang menyebabkan partai politik islam sekarang mengambil demokrasi sebagai jalan dan system perjuangannya, tanyanya.

Untuk mengakhiri pelajaran hari itu pak guru memberikan pesan, dengan memakai metode bertanya, Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kondisi masyarkat sekarang agar seperti masyarakat tempo dulu?; agar kita mengenal rasa malu dengan malu yang benar, berpakaian dengan pakaian sebenar-benarnya berpakaian dan berpolitik dengan politik yang mensejahterakan rakyat. Jawabnya  tidak lain adalah dengan mengacu pada al quran dan assunnah.  Waallahu’alam bissawab.

Oleh Pembela Islam pada 14 Juli 2011 jam 17:53- copas-dr-temen-fb-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar