4 Des 2013

Mengembangkan Minat Baca Masyarakat


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Negara disebut maju dan berkembang kalau penduduknya atau masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi. Kalau kita berbicara mengenai minat baca, maka sudah sering  ditulis di berbagai media masa dan juga sering dibicarakan dan diseminarkan, namun  masih saja  topik ini masih sangat manarik dibicarakan, hal ini disebabkan karena sampai detik ini peningkatan minat baca masyarakat masih tetap berjalan ditempat.
Hasil survey lembaga underbouw Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), UNESCO (United Nation Education Society and Cultural Organization), menemukan fakta : minat baca masyarakat Indonesia betul-betul rendah, bahkan paling rendah di Asia. Masyarakat Indonesia perlu bersegera membenahi minat bacanya yang rendah, dengan belajar dari negara-negara maju yang masyarakatnya sudah menganggap bacaan sebagai kebutuhan primer. Misalkan, masyarakat Jepang yang memiliki semboyan ”Sebaik – baik teman duduk adalah buku”, dan kita semua tahu bagaimana pesatnya kemajuan Jepang karena budaya membaca masyarakatnya begitu tinggi. Padahal mereka mayoritas masyarakatnya beragama Shinto, yang secara eksplisit ajaran mereka tidak mengajarkan untuk membaca, tapi semangat membaca mereka begitu luar biasa, ini harus menjadi cerminan bagi kita semua.

Remaja adalah masa dimana banyak mengalami perubahan, atau masa pubertas. Masa dimana sedang mencari jati dirinya, dan merupakan generasi muda yang akan menjadi harapan bangsa dan umat, karena masa depan bangsa ada ditangan para generasi mudanya.
Masyarakat kita terutama kalangan remaja masih berfikiran bahwa membeli buku bukanlah kebutuhan pokok, tapi yang pokok adalah memiliki ponsel keluaran terbaru lengkap dengan aksesorisnya. Penulis tidak mempersoalkan ponselnya akan tetapi lebih kepada antara semangat membeli ponsel dengan semangat membeli bukunya yang tidak seimbang, dari sini kita dapat melihat bahwa culture remaja kita masih terjangkit culture Hedonis (bersenang – senang). Pola fikir seperti inilah yang harus segera kita lakukan upaya – upaya perubahan, sehingga mereka tidak termakan oleh arus globalisasi yang mengalir sangat deras dan tidak terbendungkan lagi, efek dari arus ini adalah pola fikir dan tingkah laku manusia yang cenderung berubah.
Budaya membaca dikalangan remaja kita, kini sudah mulai digeser posisinya oleh visual atau Televisi. Kotak ”Ajaib” ini mampu menghipnotis para remaja sehingga mereka  mau dan kuat untuk melihat tayangan televisi sampai berjam – jam, tapi ketika mereka diminta untuk membaca buku, kebanyakan dari mereka ogah, seolah – olah membaca hanya membuang waktu saja, padahal faktanya tidaklah demikian. Dalam sebuah penelitian, membaca adalah sarana yang paling efektif untuk meningkatkan kecerdasan manusia terutama kalangan remaja. Kalau kondisi seperti ini kita biarkan begitu saja, lamban laun kita akan kehilangan satu generasi yang produktif dikarenakan malas membaca.
Witlock, seorang pencinta bacaan abad ketujuh belas, mengatakan (dalam Sukardi, 1984:107) bahwa buku adalah penasehat bebas biaya, buku tidak menolak permintaan nasehat, buku adalah permata, buku adalah sahabat yang terbaik. Sedangkan Smith menuliskan bahwa saya masih muda belia, untuk ambisi hijau bahwa sebelum saya mati sudah akan saya baca semua buku di seluruh dunia. Dengan merenungi pendapat kedua para ahli tersebut, dapat dikatakan betapa pentingnya membaca dan juga ketersediaan buku-buku yang akan dibaca.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
Faktor apa yang menyebabkan minat baca dikalangan remaja kurang?
Bagaimana peran serta orang tua, pemerintahan, dan lembaga pendidikan dalam menumbuhkan minat baca dikalangan remaja?

1.3 Tujuan
Ada pun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu agar dapat mengetahui faktor-faktor penyebab kurangnya minat baca di kalangan remaja serta peran serta orang tua, pemerintahan, lembaga pendidikan untuk mengatasi  masalah tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Faktor Penyebab Kurangnya Minat Baca di Kalangan Remaja
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan bisa menghambat masyarakat untuk mencintai dan menyenangi buku sebagai sumber informasi layaknya membaca koran dan majalah, yaitu:
Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa/mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di kelas.
Banyaknya hiburan dan permainan di rumah atau di luar rumah yang membuat  perhatian anak atau orang dewasa untuk menjauhi buku. Sebenarnya dengan berkembangnya teknologi internet akan membawa dampak terhadap peningkatan minat baca masyarakat kita, karena internet merupakan sarana visual yang dapat disinosimkan dengan sumber informasi yang lebih up to date,   tetapi hal ini disikapi lain karena yang dicari di internet kebanyakan berupa visual yang kurang tepat bagi konsumsi anak-anak.
Banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, karaoke, mall, supermarket dan lain-lain.
Budaya baca  masih belum diwariskan oleh nenek moyang kita, hal ini terlihat dari kebiasaan Ibu-Ibu  yang sering mendongeng kepada putra-putrinya sebelum anaknya  tidur dan ini hanya diaplikasikan secara verbal atau lisan saja dan tidak dibiasakan mencapai pengetahuan melalui bacaan.
Para ibu disibukan dengan berbagai kegiatan di rumah/di kantor serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, sehingga waktu untuk membaca sangat minim.
Buku dirasakan oleh masyarakat umum sangat mahal dan begitu juga  jumlah perpustakaan masih sedikit dibanding dengan jumlah penduduk yang ada dan  kadang-kadang letaknya jauh.
Selain hal tersebut di atas, terdapat faktor-faktor lain seperti kurangnya daya beli dan kurangnya ketersediaan buku-buku bacaan umum serta pelajaran yang menarik untuk dibaca. Sehingga bagi sebagian kecil anak-anak dan remaja yang membaca, mereka lebih suka membaca buku-buku yang tidak bermanfaat. Mereka lebih senang membaca, seperti komik dan buku-buku yang tergolong porno. Fenomena ini juga mengkhawatirkan karena juga sangat berpengaruh terhadap minat baca mereka terhadap bacaan-bacaan yang bermanfaat bagi diri mereka.
Kemiskinan pun juga menjadi salah satu faktor kurangnya minat membaca. Ketidakmampuan masyarakat (miskin) untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi, rendahnya daya beli masyarakat (miskin) dalam memenuhi bacaan atau buku bagi anak-anak mereka, telah memudarkan minat mereka untuk membaca.

2.2 Peran Orang Tua  dalam Menumbuhkan Minat Baca
Untuk mensiasati supaya masyarakat kita gemar membaca dan membaca adalah suatu kebutuhan sehari-hari, maka tidak ada jalan lain peranan orang tua sangat dibutuhkan dengan cara membiasakan anak-anak usia dini untuk mengenal apa yang dinamakan buku dan membiasakan untuk membaca.dan bercerita terhadap buku yang dibacanya. Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang kuat  dalam diri si anak sampai dewasa, sehingga membaca adalah suatu kebutuhan bukan sekedar hobi melulu.
Secara sederhana, sebetulnya setiap orang bisa melakukan upaya untuk menumbuhkan minta baca dikalangan remaja, misalkan, sejak usia dini para orang tua sering membawa anaknya yang masih kecil untuk rekreasi ke perpustakaan atau toko buku, dari sini anak akan terlatih untuk mencintai buku karena intensitasnya dengan buku, hal seperti ini semua orang bisa melakukannya, namun terkadang para orang tua lebih suka dan lebih merasa ”gagah” ketika mampu membawa anaknya rekreasi ke tempat – tempat hiburan. Artinya, bukan berarti hal itu salah namun tidak selalu harus ketempat hiburan. Selain itu pula, hendaknya setiap diri kita memiliki perpustakaan pribadi yang bisa kita manfaatkan untuk tempat membaca.
Hal lain yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah dengan memberi buku bacaan sebagai hadiah ulang tahun, atau sebagai hadiah karena telah meraih prestasi.

2.3 Peran Pemerintah dalam Menumbuhkan Minat Baca
Peranan pemerintah daerah dibantu oleh kalangan dunia pendidikan, media masa, gerakan masyarakat cinta buku untuk  bersama-sama merangkul pihak-pihak swasta yang mempunyai kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mensponsori pendirian perpustakaan-perpustakaan kecil dilingkungan masyarakat seperti desa/kampung dengan bantuan berupa sarana dan prasarana dan koleksi perpustakaan.
Kesadaran akan pentingnya budaya membaca saat ini mulai mendapatkan perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah. Ini dibuktikan dengan banyak bermunculan lembaga – lembaga yang secara akif melakukan kampanye membaca, misalkan, komunitas minta baca, rumah dunia dan lain sebainya, bahkan kini sudah bermunculan koran – koran yang segmentasinya khusus kalangan remaja dengan pengemasan bahasa yang tepat dengan remaja.
Perpustakaan memiliki peran penting dalam mengembangkan budaya baca di kalangan pelajar dan masyarakat umum. Saat ini kehadiran perpustakaan baik di institusi pendidikan maupun di tengah komunitas terus mengalami perkembangan. Kehadiran perpustakaan keliling merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjangkau daerah-daerah pedalaman. Perpustakaan yang baik harus mampu menjadi jantung dari sebuah komunitas masyarakat. Dengan demikian kehadirannya dapat menjadi suatu yang penting dan bermakna bagi masyarakat penggunanya, dan hal ini dapat diupayakan melalui kualitas lingkungan perpustakaan yang baik, menarik dan menyenangkan. Perpustakaan keliling yang sudah ada sekarang ini perlu ditingkatnya dan  diperluas jangkauannya dengan penambahan armada dan koleksi setiap tahunnya dan  bukan malah sebaliknya  semakin  tahun semakin menurun dan akhirnya tidak beroperasi lagi  dan ini harus mendapat perhatian serius dari kita semua kalau   menginginkan bangsa kita cerdas dan pandai sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju.


2.4 Peran Lembaga Pendidikan Dalam Menumbuhkan Minat Baca
Peranan kepala sekolah sangat penting sebagai ujung tombak terhadap pendirian perpustakan dan fungsi guru dan pustakawan sebagai pengembangan perpustakaan harus selalu mendapat perhatian serius dari pihak pemerintah daerah,  karena banyak sekolah dasar sampai menengah belum memiliki perpustakaan dan kalaupun ada sifatnya tidak berkembang karena kesulitan dana.  Pemerintah Daerah yang  sebenarnya harus  memfasilitasi perpustakaan sekolah dengan cara menggandeng pihak-pihak swasta sebagai sponsor atau sebagai mitra.
Kreatifitas pihak sekolah juga mesti di optimalkan, misalkan mewajibkan murid-muridnya untuk membaca buku di perpustakaan sekolah minimal dua jam dalam satu minggu. Di perpustakaan mereka tidak hanya sekedar membaca buku tapi ditugaskan untuk menuliskan resensi buku dari salah satu buku yang mereka baca.
Kretifitas-kreatifitas lembaga pendidikan akan sangat menunjang minat baca pelajar kita.

Sukses Dengan Membaca
”Buku adalah Jendela Dunia”
Kalau kita tengok dari manfaatnya agaknya slogan di atas tidaklah berlebihan, memang dengan membaca kita akan menjadi manusia yang bukan saja beda dari Intelektual akan tetapi lebih daripada itu, karena dari membaca proses transformasi ilmu mengalir dengan sendirinya tanpa ada komando khusus, bahkan ada sebuah pernyataan, kalau anda ingin tahu seseorang anda cukup melihat buku yang dibacanya, karena buku yang sering dibaca menggambarkan kerakter seseorang, betul tidaknya pernyataan tersebut, silahkan anda lihat sendiri.
Orang-orang yang pintar, sukses, dan bahkan menjadi orang terkenal diantara manusia, ternyata mereka semua mempunyai hobi membaca. Menjadi orang pintar tidak harus duduk di bangku sekolah, memakai seragam, memakai sepatu, menadatangi guru, tetapi cukup dengan banyak membaca kita akan menjadi orang yang sukses, pintar, cerdas, dan mempunyai banyak wawasan.
Inti dari sekolah itu sendiri adalah membaca, coba anda bayangkan jika suatu mata pelajaran itu hanya kita dengarkan saja dari guru, tanpa ada buku penunjang sebagai referensi lain, tentu tidak cukup. Karena dengan membaca, akan membantu kita memahami suatu pelajaran. Apalagi pelajaran sangat rumit, dan tidak mungkin kan kita hanya mendengarkan keterangan dari guru saja.
Seperti yang telah di sebutkan di atas, bahwa tidak semua orang sukses adalah mereka yang lama duduk di bangku pendidikan. Orang-orang yang tidak tamat sekolah pun juga bisa menjadi orang sukses dengan membaca. Kesadaran ini harus senantiasa kita semarakan supaya menjadi kesadaran kolektif, sehingga upaya pencapaian menuju masyarakat Indonesia yang cerdas akan cepat terlaksana.








BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sebenarnya untuk menciptakan dan mengembangkan minat baca masyarakat  akan bisa terwujud  kalau semua pihak dari mulai pemerintah, kalangan swasta, pustakawan, dunia pendidikan,  Orang tua, pecinta buku maupun  elemen masyarakat  mau duduk bersama-sama satu meja dan sama-sama berusaha untuk saling melengkapi dari apa yang kurang dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan masyarakat melalui  pemasyarakatan perpustakaan.  Kalau semua sekolah/perguruan tinggi maupun dalam lingkungan kampung/desa tersedia perpustakaan maka  tentu banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut.  Dengan demikian betapa banyak penulis buku, penerbit, dan toko buku yang memproduksi dan mengedarkan buku serta mengisi perpustakaan di seluruh negeri. Dengan demikian lapangan kerja terbuka luas dan berpotensi besar dan inilah yang diharapkan oleh pengarang maupun penerbit  supaya dunia buku tidak lesu dan gulung tikar.
Kesadaran akan pentingnya membaca harus kita tanamkan  supaya menjadi kesadaran kolektif, sehingga upaya pencapaian menuju masyarakat Indonesia yang cerdas akan cepat terlaksana.



3.2 Saran
Saran saya sebagai penulis dari makalah ini agar dapat di jadikan sebagai bahan sosialisasi, serta dapat juga untuk menambah ilmu pengetahuan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar